sdnpangkah04

Home » Uncategorized » PERLUNYA KETELADANAN DALAM PENANAMAN PENDIDIKAN KARAKTER

PERLUNYA KETELADANAN DALAM PENANAMAN PENDIDIKAN KARAKTER

Calendar

April 2012
M T W T F S S
« Mar   Oct »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

Galeri Lukisan

Galeri Lukisan Online mitra SD Pangkah 04

Dapatkan koleksi lukisan indah

Perlengkapan Sekolah

jasa etsa sedia perlengkapan sekolah mitra sd pangkah 04

Etsa, plakat, piagam, samir wisuda

Blog Stats

  • 62,715 hits

Archives

Oleh : Sarjono, S.Pd

 

Munculnya gagasan program pendidikan karakter di sekolah, bisa dimaklumi sebab selama ini proses pendidikan dirasakan belum maksimal bahkan banyak yang mengatakan belum berhasil membangun  manusia Indonesia  yang berkarakter. Bahkan lebih tajam lagi yang menyebut pendidikan kita telah gagal, karena banyak lulusan yang menggondol Sarjana, Diploma tetapi tidak memiliki kompetensi  dan bermental lemah. Pendidikan yang dilakukan hakekatnya sudah dilaksanakan sesuai program tetapi belum maksimal pada pendidikan karakter.

Dalam bukunya yang berjudul, Pribadi ( Jakarta: Bulan Bintang, 1982,cet,ke 10), Prof. Hamka memberikan gambaran tentang sosok manusia yang pandai tapi tidak memiliki pribadi yang unggul :

“Banyak guru, dokter, hakim, insinyur, banyak orang yang bukunya satu gudang dan diplomanya segulung besar, tiba dalam masyarakat menjadi “ mati “ sebab dia bukan orang masyarakat. Hidupnya hanya mementingkan dirinya sendiri, diplomanya hanya untuk mencari harta, hatinya sudah seperti batu, tidak mempunyai cita – cita  lain dari pada kesenangan dirinya. Pribadinya tidak kuat. Dia bergerak bukan karena dorongan jiwa dan akal. Kepandaianya yang banyak itu kerap kali menimbulkan takutnya. Bukan menimbulkan keberaniannya memasuki lapangan hidup.”

Fenomena yang tentang kekerasan yang berkembang di masyarakat seperti demo yang lepas kontrol yang menimbulkan anarkhis, pembunuhan, tawuran antar pelajar ataupun antar desa menunjukkan potret suramnya karakter kita yang telah melenceng jauh dari nilai – nilai budaya bangsa Indonesia. Betapa tidak, Negara kita yang dulu terkenal santun, ramah, berbudi luhur, kini telah berubah menjadi brutal tak terkendali. Hal ini menjadikan sebuah renungan bagi kita bersama.  Dr Ratna Megawangi salah seorang cendekiawan yang gencar mempromosikan pendidikan karakter , melalui berbagai aktivitas dan tulisannya . Pendidikan karakter adalah pendidikan untuk membentuk kepribadian seseorang melalui pendidikan budi pekerti, yang hasilnya terlihat dalam tindakan nyata seseorang, yaitu tingkah laku yang baik, jujur bertanggung jawab, menghormati hak orang lain, kerja keras dan sebagainya. Digambarkan  karakter laksanana “ otot “ yang akan lembek jika tidak dilatih. Dengan latihan – latihan, maka “ otot – otot “ karakter akan menjadi kuat dan akan mewujud menjadi kebiasaan ( habit ). Pribadi yang berkarakter selalu muncul kecintaan untuk berbuat baik (desiring the good).

Implementasi pendidikan di sekolah merupakan tugas dan tanggung jawab kepala sekolah, guru, komite dan staf. Mengingat pendidikan karakter merupakan pendidikan  yang membina dan membimbing kehidupan manusia, maka pendidikan karakter tidak cukup diberikan dengan penjelasan – penjelasan tetapi akan lebih berarti mendalam dalam kehidupan anak – anak apabila diberikan  dengan contoh – contoh atau keteladanan ( Roll model ) dari para guru dan keluarga sekolah yang lain dalam bertindak di sekolah. Semua kegiatan yang dilaksanakan oleh sekolah diintegrasikan dengan pendidikan karakter. Misalnya peringatan hari besar nasional, hari besar agama , ekstra kurikuler merupakan lahan yang paling tepat untuk menanamkan karakter  siswa.

Karakter sebagai suatu ’moral excellence’ atau akhlak dibangun di atas berbagai kebajikan (virtues) yang pada gilirannya hanya memiliki makna ketika dilandasi atas nilai-nilai yang berlaku dalam budaya (bangsa). Karakter bangsa Indonesia adalah karakter yang dimiliki warga negara bangsa Indonesia berdasarkan tindakan-tindakan yang dinilai sebagai suatu kebajikan berdasarkan nilai yang berlaku di masyarakat dan bangsa Indonesia. Oleh karena itu, Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa diarahkan pada upaya mengembangkan nilai-nilai yang mendasari suatu kebajikan sehingga menjadi suatu kepribadian diri warga negara.

Berbeda dari materi ajar yang bersifat ’mastery’, sebagaimana halnya suatu ’performance content’ suatu kompetensi, materi Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa bersifat ’developmental’. Perbedaan hakekat kedua kelompok materi tersebut menghendaki perbedaan perlakukan dalam proses pendidikan. Materi pendidikan yang bersifat ’developmental’ menghendaki proses pendidikan yang cukup panjang dan bersifat saling menguat (reinforce) antara kegiatan belajar dengan kegiatan belajar lainnya, antara proses belajar di kelas dengan kegiatan kurikuler di sekolah dan di luar sekolah.

Proses pembelajaran Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa dilaksanakan melalui proses belajar aktif. Sesuai dengan prinsip pengembangan nilai harus dilakukan secara aktif oleh peserta didik (dirinya subyek yang akan menerima, menjadikan nilai sebagai miliknya dan menjadikan nilai-nilai yang sudah dipelajarinya sebagai dasar dalam setiap tindakan) maka posisi peserta didik sebagai subyek yang aktif dalam belajar adalah prinsip utama belajar aktif. Oleh karena itu, keduanya saling memerlukan. Siswa sebagai subyek belajar di sisi lain guru dan anggota sekolah yang lain sebagai obyek.

Guru merupakan obyek pencarian makna pendidikan karakter di sekolah bagi para siswa. Apa yang dikatakan dan dilakukan guru adalah model pendidikan para siswa. Mereka akan meniru perilaku guru menjadi perilaku siswa. Oleh karena itu berhati – hatilah bagi para guru jika bertindak dan berkata. Terlebih bagi siswa Sekolah Dasar yang sedang dalam proses pembentukan sikap, apa yang dilakukan guru menjadi simbol pemaknaan sikap bagi para siswa.

Namun tidak cukup hanya sampai pada tataran di sekolah, tetapi keluarga juga bagian dari pengembangan pendidikan  bagi anak – anak. Betapa pun bagusnya  pendidikan yang dilaksanakan di sebuah  sekolah tetapi tidak ditunjang oleh orang tua dan masyarakat, maka kandaslah apa yang diharapkan oleh kita sebagai pelaksanan pendidikan. Keluarga dan masyarakat bagian dari obyek pendidikan ketika anak – anak berada di rumah sedangkan sebagian dari waktu mereka ada di sekolah merupakan tanggung jawab pihak sekolah.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: